Antara Ijazah dan professional kerja

27 04 2010

Udah Lama Ndak Menulis, jadi kemaren ane menawarkan tulisan untuk anak ganto untuk mengisi rubrik ARTIKEL UMUM, Eh..ternyata Tulisan ane ndak memnuhi kriteria, ditambah lagi Setiap ane buat tulisan yang namanya artikel selalu aja ndak sesuai dengan pedoman pembuatan Artikel, Emang setelah ane telusuri artikel ane ntu banyak yg salah (Selalu ndak bisa memberikan data dan Faktanya…Terlalu Banyak Opini/pendapat sendiri) Rencana Seh memang mau Editing dan Bimbingan ama Redaktur Tulisannya…Ternyata ane yg Ndak Ada waktu untuk Konsultasi Artikel jadi, daripada ngangur artikelnya ane Posting aja di BLOG. Berikut Artikelnya.
Sekolah atau Perguruan tinggi merupakan tempat belajar, jadi fungsinya untuk belajar sesuai dengan keahlian di bidangnya dan bukan hanya untuk tempat mencari ijazah, itulah yang dikatakan oleh dosenku sewaktu pertama kali memasuki perguruan tinggi. Memang benar setiap Sekolah yang pernah kita singgahi itu adalah untuk menuntut ilmu agar manusia yang di didik bisa menjadi manusia handal di bidangnya dan Profesional dalam bidang yang dimilikinya Dan Tidak jarang setiap yang tamat kuliah di kampusku pun lagi-lagi selalu mengatakan susah sekali cari kerjaan. Di sisi yang lain ada juga yang terbiasa belajar otodidak (Belajar Sendiri dari Pengalaman atau Membaca Buku) Banyak dipakai oleh perusahaan swasta yang digaji dari keahlian di bidangnya (Profesional).

Seperti yang terjadi di Negara kita mengapa ijazah diperlukan? Itu terjadi karena sistem negara atau kondisi masyarakat menghargai manusia dari ijazah, bukan dari keahlian atau kemampuannya atau lebih disebut Profesional. Di negara maju, ijazah tidak lebih dari kertas berjudul ”to whom it may concern” atau sekadar surat keterangan, tak ada yang mau beli ijazah.

Dan didukung lagi dengan peraturan pemerintah setiap ada lowongan pekerjaan PNS, syarat utama adalah ijazah, Maka berlomba-lombalah semua kalangan untuk memperebutkan selembar ijazah untuk bisa masuk pada sebuah Instansi Pemerintahan. Akhir dari kegiatan itu maka lahirlah yang namanya memburu ijazah dengan cara instan yang banyak diminati oleh para abdi negara bukanlah hal yang tidak beralasan. Dengan selembar ijazah yang bisa diperoleh sambil ”tidur”, yang penting ada uang, semua bisa diatur. Karir jabatan seseorang mungkin bisa terangkat. Sehingga, jangan kaget bila ada PNS yang bergelar akademik tinggi tapi ”NOL BESAR”, tidak ada isinya sama sekali.

Berburu ijazah terjadi karena ijazah memang mendapat tempat atau pengakuan di hadapan pemerintah. Akibatnya, pemerintah banyak kecolongan manakala mengangkat seseorang untuk menjadi abdi negara yang didasarkan pada ijazah belaka. Lain halnya dengan swasta, kebanyakan yang ditonjolkan bukan ijazah formal, tapi mengutamakan kompetensi. Dengan demikian, begitu dia direkrut, kemungkinan kecolongan sangat kecil untuk bisa ditempatkan pada jabatan tertentu. Apalagi, keberlanjutannya dipersyaratkan dengan prestasi. Dua kenyataan tadi kembali menggulirkan pertanyaan menggelitik: Bisakah kita hidup atau berkarir tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah?

Kita pernah mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah. Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkannya menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.

Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dan dai Aa Gym. Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM, selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).

Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses.

Tulisan ini dibuat Tidak lain karena keprihatinan dengan budaya dunia profesional di negeri ini yang masih sangat mengagungkan ijazah sebagai parameter utama. Bukan, jam terbang dan portofolio real seseorang. kemudian menggugurkan profesionalisme yang sudah dirintis. Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin masing-masing kita bisa menjawab dengan tepat.


Actions

Information

One response

30 05 2010
ayang

TUlisan ini bagus..dan itu adalah realnya, tapi terkadang kita harus ikut sistem tersebut, dan tidak bisa keluar dari sistem itu.
Terkadang keahlian itu jadi tidak berguna tanpa selembar ijazah.
Lagipula ada satu hal penting, ketika seseorang di bangku perkuliahan ada banyak pengalaman belajar yang diperoleh, terutama terkait kekayaan intelektual dan pola pikir terutama dalam keterlibatan atmosfir akademik..(ko dosen ngecek ma diak..he he)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: